Senin, 27 Maret 2017

Shigeaki no Cloud - 22 Maret 2017 - part 2 [Indonesia Translate]





3.       “Un, Deux, Trois”


Bagaimana menurut kalian ketika menemukan dunia “NEVERLAND” setelah menyelam ke dalamnya? Sangat menyenangkan bukan?
Sebelum kalian menyadarinya, kalian akan menemukan bahwa tubuh dan hati kalian telah bergoyang dengan sendirinya.
Setelah melewati gerbang “NEVERLAND”, yang menunggu kalian adalah sebuah lagu yang bisa membuat kalian ingin menari.
Ketukan musik four-on-the-floor akan secara alami membuat tubuh kalian terasa lebih ringan.


Dengan sebuah “Un, Deux, Trois (1-2-3)”, kami akan mengajak kalian untuk menari.
Saat – saat ketika tangan saling bergandengan, meneriakkan tentang cinta.
Jika kalian mau, cobalah untuk meneriakkannya juga.
Kalian harus menikmati momen ini. Karena momen yang sama pada waktu yang sama tak akan pernah terjadi lagi.
Lagu ini tidak hanya menyenangkan, namun juga cantik dan terasa seperti mimpi, samar – samar dan entah bagaimana terasa menyedihkan.


Mungkin penggunaan falsetto secara efektif membuatnya terasa seperti itu. Ada sesuatu yang terasa transparan pada suara vokal masing – masing member, membuat perpaduannya terasa lebih manis. Seperti sebuah khayalan.


Secara pribadi, menurutku ada banyak momen yang penting dalam lagu ini, khususnya aku menyukai improvisasi Massu yang halus namun penuh tenaga pada akhir bait lagunya.


Aku juga menyukai bagian yang mengikuti setelahnya, ketika Tegoshi bernyanyi hanya dengan iringan piano, yang kemudian membawa lagunya pada bagianku, dan falsetto milik Koyama-san (hal yang jarang terjadi!) benar – benar bagus.
Kemudian lagunya meledak ke dalam melodi terakhirnya! Kalian akan menemukan diri kalian melompat dengan sendirinya!
Jadi, kalian harus benar – benar bersenang – senang sekarang! Mari melangkah ke lagu selanjutnya!
 

4.       “EMMA”


Kesan pertamaku ketika mendengarkan albumnya adalah...
“Kita meletakkan ‘EMMA’ di sini!?!?!?!?”
Namun bukankah lagu ini memang sudah seharusnya di sini!?
Dengan perubahan campuran lagu yang memusingkan ini, kini kita telah menghadirkan sesuatu dengan aura menegangkan!
Kupikir para penggemar telah mendengarkan lagu ini beberapa kali, namun kali ini aku akan sedikit membahasnya lagi.
Lagu ini dimulai dengan suara gitar yang samar - samar beraroma keringat dan mudah diingat, juga iramanya yang kasar, lalu ditambahkan sedikit suara cengkok harmonika! Sangat kontras!
Gozen reiji. Gimuretto no kissu. (Tengah malam. Sebuah ciuman gimlet)
Wow, sangat dewasa...
Kami sering ditanya, “Apa itu gimlet?” Gimlet adalah sejenis minuman cocktail.
Itu adalah minuman sederhana yang terdiri dari gin, sari jeruk nipis, dan beberapa macam sirup, namun cukup memabukkan.


Sesungguhnya, sebelum menyanyikan lagu “EMMA”, aku sudah pernah mendengar tentang gimlet, namun belum pernah mencobanya. Beberapa hari sebelum waktu rekaman, aku memesan segelas di sebuah bar. Bagiku itu adalah kenangan yang bagus!
Sensasi terbakar dari gin, aromanya, dan rasa asam jeruk nipis terasa sangat menyegarkan. Secara keseluruhan, itu adalah minuman dengan rasa yang kuat.
Jika kalian tidak tahan dengan alkohol, berhati – hatilah ketika meminumnya!


Jika hanya minuman cocktail biasa, minuman apapun bisa dimasukkan dalam liriknya, bukan?
Kalian mungkin berpikir seperti itu. Namun ada sebuah ungkapan yang membuat gimlet sangat diperlukan dalam lagu ini.


“I suppose it’s a bit too early for a gimlet.”
Ini adalah sepotong kutipan yang cukup terkenal dari salah satu karya klasik Raymond Chandler, yang juga diangkat menjadi sebuah film, “The Long Goodbye”.


Ya, benar. Dunia milik Chandler telah melebur ke dalam lagu ini. (Bagi yang belum mendengarkannya, coba dengarkan!).


Frasa liar yang dijabarkan dalam liriknya mengekspresikan tentang sifat penuh keberanian orang Amerika.


Bagian tentang itu mungkin sedikit terasa tidak keren, namun hal tersebut ada maksudnya. Maksudnya untuk menyerupai atmosfer di sekitar mereka, dan sikap mereka yang penuh kepura – puraan.


Salah satu bagian yang secara pribadi sangat kusukai mungkin bagian Massu lagi.
Ada apa dengan “dua sentimeter!?” dari bagian ujung pistol!? Atau dari bibir!?
Hal apa yang diperlukan untuk menyakiti hati seseorang dalam – dalam, lebih dari jika kau tak bisa mencintainya?
Dalam bayanganku, sedihnya, itu adalah yang kusebutkan sebelumnya (ujung pistol). Bagaimanapun, pada akhirnya hal tersebut diminta untuk dilakukan (tolong nyanyikan)...
Beberapa dari kalian mungkin tidak mengetahuinya, namun dalam drama “Trouble Man”, ada adegan yang mirip seperti itu...
Dan dalam “Kirawareru Yuuki” Aku juga mengacungkan sebuah pistol...
Fajar berwarna merah. Aku tak bisa membayangkan hal lain selain darah...
Namun sebelum itu ia ingin meminum gimlet untuk terakhir kalinya... dan jika dilakukan sekarang, itu tidak akan menjadi “agak terlalu dini”...
Ahh, Menuliskannya membuatku merasa tersakiti.


Namun lagu ini akan menjadi sangat lengkap jika didengarkan sambil menontonnya. Ada banyak perbedaan makna untuk koreografi yang menggunakan jaket juga.


Dilihat dari sisi musik, musiknya termasuk aliran dance yang mempunyai nuansa berbeda dari yang kami lakukan untuk “Un, Deux, Trois”.


Jika diubah subyeknya, tampaknya karakter Aoyama yang kuperankan di “Kirawareru Yuuki” mirip dengan anjing Emma.
Mungkin ia adalah anjing yang tersesat. Mungkin ia akan menangis.


Oke, cukup ini saja untuk hari ini. Aku akan melanjutkannya nanti dengan lagu kelima “7 Elements”!

cr.Jweb
by.D

Tidak ada komentar:

Posting Komentar